Memaafkan Orang Lain


Alasan Kongkret Dan Abstrak

Memaafkan orang lain adalah nilai hidup yang universal sifatnya. Semua agama dan semua doktrin kearifan menilainya sebagai tindakan terpuji. Dalam agama, memaafkan termasuk karakteristik utama ketakwaan dan termasuk perilaku / sifat  yang sangat disenangi Tuhan.

Dari sisi kebugaran jiwa, dengan memaafkan orang lain, ruang emosi kita akan relatif bersih dari beban negatif kebencian, kedendaman atau tuntutan pada orang lain. Kebencian kita pada orang lain seringkali merugikan kita lebih dulu sebelum membahayakan orang lain. Cuma, kita kerap kurang menyadarinya.

Menurut David A. Seamand (Healing for Damaged Emotion: 1972), sumber rusaknya emosi itu ada dua, yaitu: a) kita gagal memaafkan orang lain (fail to forgive) dan b) kita gagal menerima permintaan maaf dari orang lain (fail to receive forgiveness). Kegagalan kita di dua hal itu menyebabkan kebencian dan kedendaman terus berlanjut sehingga merusak sistem emosi.

Senada dengan pendapat di atas, Gary Zukaf (The Heart of the Soul: 2002) menyimpulkan, sumber rusaknya emosi adalah rendahnya harga diri. Apa itu harga diri? Harga diri adalah bagaimana kita membangun perasaan terhadap diri sendiri berdasarkan apa yang kita lakukan dalam hidup kita. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan dalam hidup, akan semakin bagus juga harga diri yang terbangun.

Sebaliknya, semakin buruk perasaan kita terdahap diri sendiri, maka akan semakin kuat memicu kesombongan dalam bentuk sikap atau perilaku yang menuntut orang lain untuk menghargai kita atau jangan sampai mengungguli kita, misalnya cepat merasa tersinggung atau mereasa direndahkan. Begitu kesombongan sudah kokoh, maka sulit kita bisa memaafkan orang lain, sekali pun itu untuk urusan yang kecil.

Selain itu,  dengan memaafkan orang lain, berarti kita telah membuat perbaikan di muka bumi (lingkungan), dari yang paling mikro (keluarga / tempat kerja) sampai ke yang paling makro (sosial, nasional, dan global). Pengrusakan yang dilakukan manusia itu ada dua, yaitu fisik dan non-fisik. Permusuhan, anarkisme, ketidakdisiplinan sosial, dan seterusnya itu termasuk bentuk pengrusakan.

Dengan memaafkan berarti kita telah menyelamatkan bumi dari kerusakan. Menurut Hawk Williams (The Essence of Managing Group & Teams: 1996), permusuhan antar individu itu bersumber dari kegagalan seseorang untuk memaafkan. Misalnya kita mempersepsikan orang lain itu salah, lalu kita diamkan terus atau kita bangun terus perspesi itu, hingga kemudian kita kehilangan perspektif mengenai orang itu. Asal sudah bicara tentang si anu, bawaannya kita benci hingga lahir permusuhan yang berkepanjangan. Keluarga, teamwork, organisasi, daerah atau negara yang permusuhannya sudah muncul, akan kehilangan sumber kebaikan dan kedamaian.

Alasan lainnya adalah untuk bukti keimanan yang abstrak. Kepada orang yang memaafkan, Tuhan hanya mengatakan balasannya surga atau pahala yang juga   tak tanggung-tanggung abstraksnya. Bayangkan, surga untuk orang yang memaafkan itu digambarkan seluas langit dan bumi. Luas bumi saja sudah susah kita ukur, apalagi ini ditambah dengan luasnya langit.

Seberapa Besar Kesanggupan Kita?

Baik mau pakai rujukan bahasa Indonesia, Inggris atau Arab, memaafkan itu secara teorinya mengandung pengertian yang cukup berat dijalankan manusia. Memaafkan berarti menghapus. Apa yang perlu kita hapus? Menurut teori idealnya, penghapusan itu perlu dilakukan pada dua wilayah (domain):

  • Domain intrapersonal (personal): menghapus kebencian dan kedendaman dari kesalahan orang lain yang kita persepsikan telah merugikan, menyakiti atau membahayakan kita.
  • Domain interpersonal (sosial): menghapus tuntutan atas pembalasan atau menghapus tuntutan atas ganti-rugi, baik secara materi atau non-materi.

Untuk kesalahan yang tergolong kecil atau umum (ordinary), misalnya hanya menimbulkan efek kerugian yang merupakan resiko berinteraksi, mungkin kita masih bisa dengan mudah melakukan penghapusan, baik menghapus kebencian atau menghapus ganti-rugi. Tapi bagaimana kalau kesalahan itu tergolong besar atau luar biasa, misalnya penganiayaan berat? Apa ya bisa menghapus?

Mandela, orang hebat asal Afrika itu, ternyata punya prinsip sama dengan salah satu orangtua korban bom Bali I. Kalau melihat di televisi, penjara tempat Mandela diasingkan hampir mirip seperti kandang kuda. Sudah begitu, dia juga kerap mengalami penyiksaan atau perlakuan yang kejam. Sementara itu, bapak setengah baya – orang tua korban Bom Bali I mengatakan, dirinya memaafkan anaknya yang hilang oleh kesalahan orang lain. Tapi, jangan sampai hukum memaafkan begitu juga. “Dia juga harus dihukum berdasarkan hukum yang berlaku”, tegasnya sambil menangis.

Nah, dari dua contoh itu dan sejumlah contoh dalam praktek hidup, dapat kita simpulkan bahwa kemampuan manusia untuk memaafkan itu tidak mutlak, alias nisbi dan terbatas karena memang manusia itu makhluk nisbi dan terbatas, tidak seperti Tuhan yang memiliki kemutlakan.  Sudah nisbi dan terbatas begitu, level kesalahan orang pun beda-beda.

Ada kesalahan orang lain yang memang masih dalam level bisa dimaafkan kesalahaannya dan tuntutannya sekaligus, misalnya dalam kasus-kasus kecil, umum, dan biasa. Ada juga kesalahan orang lain yang hanya mampu dimaafkan kesalahannya saja, tidak tuntutannya seperti orangtua korban bom atau kasus lain. Ada juga kesalahan orang lain yang hanya bisa dimaafkan orangnya atau tuntutannya, bukan kesalahannya. Misalnya saja ada orang yang pernah punya hutang kepada kita. Karena orang itu tidak bisa membayar atau kita kesulitan  menagihnya, maka kita maafkan hutang itu. Begitu dia mengajukan hutang lagi, kita akhirnya menolaknya dengan alasan kasus kemarin.

Munculnya naluri manusia yang tidak serta merta sanggup memaafkan kesalahan orang lain untuk level kesalahan tertentu ada hikmahnya juga. Kalau semua manusia diberi kemampuan memaafkan secara mutlak, pasti edukasi sosial akan berhenti, penegakan hukum tidak jalan, dan dunia bisa jadi malah kacau. Coba misalnya kalau pemerkosa dimaafkan begitu saja tanpa proses hukum, apa jadinya? Bahkan dikatakan, orang yang “terlalu mentoleransi” kejahatan tidak termasuk ciri penyabar yang bersyukur. Mungkin termasuk fogetter, neglecter, and NOT forgiver.

Hambatan Pembebasan Dada

Inti ajaran memaafkan sebetulnya adalah pembebasan dada dari berbagai bentuk kebencian atau energi negatif yang dikirim dari pikiran atau penilaian. Pembebasan ini penting, karena kalau tidak, akan merusak kita dan lingkungan. Soal kesalahan orang lain, itu ada yang masuk ke ranah hukum formal dan ada yang tidak, tergantung persepsi dan kondisi.

Nah, dari praktek hidup, seringkali kita gagal membebaskan dada karena ada beberapa hambatan yang gagal kita singkirkan. Beberapa hambatan itu antara lain:

Pertama, perfeksionis yang tidak sehat. Perfeksionis itu ada yang bagus (search for excellence) dan ada yang tidak. Kalau kita menginginkan kesempurnaan karena alasan yang tidak masuk akal, tidak relevan dengan realiats atau hanya karena ego subyektif kita berarti kurang sehat. Gejalanya antara lain: marah, menolak, kekhawatiran, perasaan negatif terhadap diri, dan memunculkan tuntutan yang tak masuk akal. Ini semua dapat menyulitkan kita memaafkan orang lain dan diri sendiri.

Kedua, kekerdilan jiwa. Jiwa kita bisa kerdil karena pandangan hidup kita tidak luas, perspektif hidup kita sempit, atau jiwa kita kurang membuana. Saya pernah bertanya kepada seorang pengusaha mengenai apa yang membuat dia tak kapok membantu orang padahal tidak semua orang yang dibantunya itu baik? Jawabannya simpel. “Hidup saya ternyata lebih baik dengan berbuat baik. Soal mereka tidak baik, itu urusannya mereka”. Ini adalah jawaban dari kebesaran jiwa. Andai jiwanya kerdil, pasti dia kapok dan sudah membenci orang.

Ketiga, generalisasi kesalahan orang lain. Ada orang lain yang dipaksa kekuatan untuk melakukan kesalahan pada kita, ter-skenariokan oleh kejahatan, ketidaktahuan, atau ketidaksengajaan, korban, atau lain-lainnya. Semakin kita tidak mau tahu kenapa orang lain salah, semakin gagal kita memaafkan.

Keempat, egoisme diri. Hal lain juga kerap menghambat adalah ketika kita terlalu dan hanya menonjolkan kepentingan egoisme diri sendiri atau kepentingan jangka pendek semata dalam hubungan. Leluhur kita mengajarkan dua hal. Hidup ini isinya memang mencari untung, tapi untung itu jangan selalu dimaknai dengan materi. Kalau pas kebetulan tidak untung di materi, kita juga harus melihat keuntungan persahabatan jangka panjang sehingga dada kita bebas dari kotoran negatif.

Pengertian Orang Kuat

Melihat adanya hambatan jiwa seperti di atas itu, makanya sering dikatakan, memaafkan itu adalah keputusan orang yang kuat. Apanya yang kuat? Kuat di sini bukan kuat materinya, kekuasaannya atau berbagai atribut fisik kekuatan. Kuat di sini lebih bermuara pada kekuatan berprinsip pada nilai-nilai hidup yang abstrak.

Seperti apa kekuatan berprinsip itu bisa digambarkan? Dalam psikologi ada banyak kajian mengenai kekuatan alasan moral, misalnya Kohlberg, Eisenberg, dan lain-lain, yang bisa kita jadikan acuan untuk introspeksi diri. Secara umum, kekuatan berprinsip kita akan tergolong lemah apabila perilaku moral yang kita lakukan itu dibasisi motif kepentingan diri yang subyektif, egoistis, dan sesaat, misalnya kita terpaksa memaafkan karena tidak mampu balas dendam atau takut dipecat atau supaya tidak terisolasi.

Kekuatan berprinsip yang tergolong agak kuat adalah ketika kita berperilaku moral karena kita menyadari itulah yang diajarkan oleh kebaikan meski kurang konsisten. Yang terkuat adalah ketika kesadaran itu sudah muncul secara relatif lebih konsisten atau sudah membentuk sifat-sifat yang bisa dijadikan label atau karakter.

BOX

LEVEL ALASAN MORAL*


NO LEVEL PENJELASAN
1

Self-centered reasoning

(Alasan kepentingan pribadi)

Orang melakukan kebaikan atau menghindari keburukan karena kepentingan pribadi atau egonya, seperti anak-anak.

2

-oriented reasoning

(Alasan kebutuhan)

melakukan kebaikan atau menghindari keburukan karena atau demi kebutuhan thd orang lain.

3

Stereotyped-approval-oriented reasoning (Alasan sosial)

Orang melakukan kebaikan atau menghindari keburukan untuk supaya diterima atau tidak dibenci oleh lingkungan sosial.

4

Empathic reasoning (Alasan empatik)

Orang melakukan kebaikan atau menghindari keburukan karena alasan-alasan kasihan atau karena suasana batin tertentu.

5

Partly internalized principles (Alasan nilai yang masih parsial)

Orang melakukan kebaikan atau menghindari keburukan karena alasan-alasan nilai yang dia pahami namun masih kurang konsisten dan terkadang masih campur aduk dengan alasan-alasan lain.

6

Strongly internalized principles (Alasan nilai yang sudah kuat)

Orang melakukan kebaikan atau menghindari keburukan karena alasan-alasan nilai yang sangat personal dan itu dipedomani secara kuat dan dilakukan secara lebih konsisten.

*) Eisenberg (1989)

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s