Risiko Anak Kecil Bekerja


Dunia anak-anak adalah bermain. Jika sejak usia SD sudah bekerja, dikhawatirkan mereka akan tumbuh menjadi remaja nakal. Mereka rentan berkelahi dan kabur dari rumah. Anggapan bahwa anak-anak di negara Barat lebih mandiri dan tidak manja tidak sepenuhnya keliru. Manakala banyak anak-anak Indonesia dari keluarga mampu yang terbiasa hidup dengan bantuan pembantu sejak kecil, anak-anak kecil di negara-negara Barat banyak yang sudah berpikir untuk bekerja.

Ambil contoh di Amerika Serikat, fenomena anak usia SD yang bekerja sampingan memang bukan hal baru dan hal ini dianggap sebagai upaya menempa kemandirian sejak dini. “Pekerjaan” yang mereka jalani di antaranya menjadi pengasuh bayi atau pengantar koran (loper). Akan tetapi, di balik niat menggembleng mental dan kemandirian tersebut, terselip kekhawatiran akan dampak negatif pada masa depannya.

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti asal Negeri Paman Sam itu mengungkapkan, anak yang kerap diberi beban pekerjaan berlebih berpeluang tumbuh menjadi remaja nakal. Peneliti juga mendapati kecenderungan lebih tinggi bagi anak-anak tersebut untuk terpapar perilaku merokok, minum alkohol, dan suka berkelahi.

Rajeev Ramchand, seorang ilmuwan bidang perilaku dari Rand Corp, mengungkapkan, hasil penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa beban kerja berlebih berpengaruh langsung terhadap masalah tersebut.

“Dalam hal ini, kami lebih mengarahkan pada pertanyaan tentang nilai pekerjaannya itu,” ujar Ramchand yang ikut terlibat menulis laporan penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine itu.

“Kami paham bahwa bekerja bisa membuahkan hal positif, tapi jangan lupa bahwa saat bekerja anak-anak itu juga terpapar hal-hal yang lebih buruk,” imbuhnya.

Penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa anakanak yang beranjak remaja yang bekerja cenderung lebih sering melakukan tindakan yang membahayakan orang lain (abuse) sehingga terserempet masalah hukum.

Ini merupakan studi pertama yang menganalisis fenomena anak-anak yang bekerja. Data penelitian didasarkan pada survei yang dilakukan terhadap 5.147 anak usia kelas 5 SD beserta orangtuanya yang tinggal di Birmingham, Houston, dan Los Angeles, Amerika Serikat. Penelitian dilakukan selama kurun 2004-2006.

Setelah melakukan pencocokan data statistik terhadap beberapa faktor seperti penghasilan keluarga, peneliti mendapati bahwa dalam sebulan terakhir kecenderungan menenggak alkohol pada anak-anak usia kelas lima SD yang bekerja jumlahnya dua kali lipat dibanding teman sebayanya yang tidak bekerja. Demikian halnya kecenderungan merokok dan penyalahgunaan ganja, angkanya dua dan tiga kali lebih tinggi.

Selain itu, anak yang bekerja juga memiliki 1,5 kali lipat kecenderungan untuk berkelahi dan dua kali lipat kasus kabur dari rumah. Adapun “pekerjaan” yang dimaksudkan peneliti adalah yang diberi upah (dibayar) seperti tukang kebun, pengantar permen ke rumah-rumah, dan pengasuh bayi.

Sekitar satu dari lima anak usia kelas lima SD mengaku punya pekerjaan sampingan tersebut. Lantas, bagaimana sebuah pekerjaan justru bisa mendatangkan masalah? “Kemungkinan hal tersebut disebabkan orangtua berhenti mengawasi anaknya saat mereka bekerja,” ujar Ramchand.

“Orangtua harus konsisten memantau apa yang dilakukan anak-anaknya. Tanya dan diskusikan tentang apa saja yang mereka lakukan saat bekerja,” sebutnya.

Kendati demikian, seorang pemerhati anak dari Universitas California, Los Angeles, Frederick Zimmerman, berpendapat orangtua tak perlu merasa resah atau panik mendengar hasil penelitian tersebut.

“Jutaan orangtua dan anak-anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah mendapati bahwa pekerjaan informal merupakan salah satu aspek positif dan produktif dalam proses tumbuh kembang menuju dewasa,” ujarnya. “Tak perlu terlalu dirisaukan,” tandasnya.

Akan tetapi, lanjutnya, beberapa hal dalam hasil penelitian tersebut tak urung membuatnya khawatir, terutama temuan bahwa pekerjaan informal itu sendiri memiliki dampak penyimpangan perilaku pada anak usia kelas lima SD tersebut. Secara umum, Zimmerman berpendapat, studi tersebut cukup informatif dan mengupas informasi baru.

“Selama ini kami hanya mengetahui sedikit tentang anak-anak dan pekerjaan, terutama pekerjaan informal. Temuan ini bagus dijadikan bahan diskusi atau penelitian lebih lanjut,” komentar dia.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Anak kecil bekerja bukanlah sesuatu yang lazim.Ratarata orang Indonesia baru mulai berpikir mencari pekerjaan dan tambahan uang saku saat duduk di bangku kuliah. Demikian halnya fenomena anak kurang mampu dan anak jalanan yang sudah harus bekerja sejak kecil demi menafkahi hidupnya juga masih mengundang keprihatinan.

Bagi anak-anak yang sudah duduk di bangku sekolah, sekolah merupakan salah satu lingkungan terpenting yang dapat mempengaruhi kehidupan anak. Bagaimana dan seperti apa kehidupan dan pergaulan anak di sekolah akan mempengaruhi kehidupan mereka yang akan datang. Untuk itu, tugas mulai untuk mebesarkan anak yang sehat dan bermoral baik tak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, guru di sekolah dan lingkungan sekitar rumah pun ikut berperan.

Risiko Anak Kecil Bekerja

Dunia anak-anak adalah bermain. Jika sejak usia SD sudah bekerja, dikhawatirkan mereka akan tumbuh menjadi remaja nakal. Mereka rentan berkelahi dan kabur dari rumah. Anggapan bahwa anak-anak di negara Barat lebih mandiri dan tidak manja tidak sepenuhnya keliru. Manakala banyak anak-anak Indonesia dari keluarga mampu yang terbiasa hidup dengan bantuan pembantu sejak kecil, anak-anak kecil di negara-negara Barat banyak yang sudah berpikir untuk bekerja.

Ambil contoh di Amerika Serikat, fenomena anak usia SD yang bekerja sampingan memang bukan hal baru dan hal ini dianggap sebagai upaya menempa kemandirian sejak dini. “Pekerjaan” yang mereka jalani di antaranya menjadi pengasuh bayi atau pengantar koran (loper). Akan tetapi, di balik niat menggembleng mental dan kemandirian tersebut, terselip kekhawatiran akan dampak negatif pada masa depannya.

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti asal Negeri Paman Sam itu mengungkapkan, anak yang kerap diberi beban pekerjaan berlebih berpeluang tumbuh menjadi remaja nakal. Peneliti juga mendapati kecenderungan lebih tinggi bagi anak-anak tersebut untuk terpapar perilaku merokok, minum alkohol, dan suka berkelahi.

Rajeev Ramchand, seorang ilmuwan bidang perilaku dari Rand Corp, mengungkapkan, hasil penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa beban kerja berlebih berpengaruh langsung terhadap masalah tersebut.

“Dalam hal ini, kami lebih mengarahkan pada pertanyaan tentang nilai pekerjaannya itu,” ujar Ramchand yang ikut terlibat menulis laporan penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine itu.

“Kami paham bahwa bekerja bisa membuahkan hal positif, tapi jangan lupa bahwa saat bekerja anak-anak itu juga terpapar hal-hal yang lebih buruk,” imbuhnya.

Penelitian sebelumnya juga mengungkapkan bahwa anakanak yang beranjak remaja yang bekerja cenderung lebih sering melakukan tindakan yang membahayakan orang lain (abuse) sehingga terserempet masalah hukum.

Ini merupakan studi pertama yang menganalisis fenomena anak-anak yang bekerja. Data penelitian didasarkan pada survei yang dilakukan terhadap 5.147 anak usia kelas 5 SD beserta orangtuanya yang tinggal di Birmingham, Houston, dan Los Angeles, Amerika Serikat. Penelitian dilakukan selama kurun 2004-2006.

Setelah melakukan pencocokan data statistik terhadap beberapa faktor seperti penghasilan keluarga, peneliti mendapati bahwa dalam sebulan terakhir kecenderungan menenggak alkohol pada anak-anak usia kelas lima SD yang bekerja jumlahnya dua kali lipat dibanding teman sebayanya yang tidak bekerja. Demikian halnya kecenderungan merokok dan penyalahgunaan ganja, angkanya dua dan tiga kali lebih tinggi.

Selain itu, anak yang bekerja juga memiliki 1,5 kali lipat kecenderungan untuk berkelahi dan dua kali lipat kasus kabur dari rumah. Adapun “pekerjaan” yang dimaksudkan peneliti adalah yang diberi upah (dibayar) seperti tukang kebun, pengantar permen ke rumah-rumah, dan pengasuh bayi.

Sekitar satu dari lima anak usia kelas lima SD mengaku punya pekerjaan sampingan tersebut. Lantas, bagaimana sebuah pekerjaan justru bisa mendatangkan masalah? “Kemungkinan hal tersebut disebabkan orangtua berhenti mengawasi anaknya saat mereka bekerja,” ujar Ramchand.

“Orangtua harus konsisten memantau apa yang dilakukan anak-anaknya. Tanya dan diskusikan tentang apa saja yang mereka lakukan saat bekerja,” sebutnya.

Kendati demikian, seorang pemerhati anak dari Universitas California, Los Angeles, Frederick Zimmerman, berpendapat orangtua tak perlu merasa resah atau panik mendengar hasil penelitian tersebut.

Jutaan orangtua dan anak-anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah mendapati bahwa pekerjaan informal merupakan salah satu aspek positif dan produktif dalam proses tumbuh kembang menuju dewasa,” ujarnya. “Tak perlu terlalu dirisaukan,” tandasnya.

Akan tetapi, lanjutnya, beberapa hal dalam hasil penelitian tersebut tak urung membuatnya khawatir, terutama temuan bahwa pekerjaan informal itu sendiri memiliki dampak penyimpangan perilaku pada anak usia kelas lima SD tersebut. Secara umum, Zimmerman berpendapat, studi tersebut cukup informatif dan mengupas informasi baru.

“Selama ini kami hanya mengetahui sedikit tentang anak-anak dan pekerjaan, terutama pekerjaan informal. Temuan ini bagus dijadikan bahan diskusi atau penelitian lebih lanjut,” komentar dia.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Anak kecil bekerja bukanlah sesuatu yang lazim.Ratarata orang Indonesia baru mulai berpikir mencari pekerjaan dan tambahan uang saku saat duduk di bangku kuliah. Demikian halnya fenomena anak kurang mampu dan anak jalanan yang sudah harus bekerja sejak kecil demi menafkahi hidupnya juga masih mengundang keprihatinan.

Bagi anak-anak yang sudah duduk di bangku sekolah, sekolah merupakan salah satu lingkungan terpenting yang dapat mempengaruhi kehidupan anak. Bagaimana dan seperti apa kehidupan dan pergaulan anak di sekolah akan mempengaruhi kehidupan mereka yang akan datang. Untuk itu, tugas mulai untuk mebesarkan anak yang sehat dan bermoral baik tak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, guru di sekolah dan lingkungan sekitar rumah pun ikut berperan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s